Jumat, 25 Mei 2012

being leader and making decisions


Introduction
being a leader and making decisions
often do not recognize when they are in a situation that calls
for a moral choice, and they are not able to define what is right
and what is wrong in that situation. The California-based
Josephson Institute of Ethics agrees with these concerns. The
institute states that we have a “character deficit” in our society
today and points out that increasing numbers of young
people across the United States—from well-to-do as well as
disadvantaged backgrounds—demonstrate reckless disregard
for fundamental standards of ethical conduct.
According to the 2006 Josephson Institute Report Card on
the Ethics of American Youth, our children are at risk. This
report sets forth the results of a biannual written survey
completed in 2006 by more than 36,000 high school students
across the country. The compilers of the report found that 82
percent of the students surveyed admitted that they had lied
to a parent about something significant within the previous
year. Sixty percent admitted to having cheated during a test
at school, and 28 percent admitted to having stolen something
from a store.2 (Various books in this series will tell of
other findings in this report.) Clearly, helping young people to
develop character is a need of national importance.
The United States Congress agrees. In 1994, in the joint
resolution that established National Character Counts Week,
Congress declared that “the character of a nation is only as
strong as the character of its individual citizens.” The resolution
also stated that “people do not automatically develop
good character and, therefore, conscientious efforts must
be made by youth-influencing institutions . . . to help young
people develop the essential traits and characteristics that
comprise good character.”3
Many stories can be told of people who have defended our
nation with character. One of the editors of this series knew
one such young man named Jason Dunham. On April 24,
2004, Corporal Jason L. Dunham was serving with the United
States Marines in Iraq. As Corporal Dunham’s squad was
conducting a reconnaissance mission, the men heard sounds
of rocket-propelled grenades and small arms fire. Corporal
Dunham led a team of men toward that fire to assist their battalion
commander’s ambushed convoy. An insurgent leaped
out at Corporal Dunham, and he saw the man release a grenade.
Corporal Dunham alerted his team and immediately
covered the grenade with his helmet and his body. He lost his
own life, but he saved the lives of others on his team.
In January 2007, the Dunham family traveled to Washington,
D.C., where President George W. Bush presented them
with Corporal Dunham’s posthumously awarded Congressional
Medal of Honor. In the words of the Medal of Honor
citation, “By his undaunted courage, intrepid fighting spirit,
and unwavering devotion to duty, Corporal Dunham gallantly
gave his life for his country.”4
Thomas Lickona, the author of several books including
Educating for Character and Character Matters, explains that
the premise of character education is that there are objectively
good human qualities—virtues—that are enduring
moral truths. Courage, fortitude, integrity, caring, citizenship,
and trustworthiness are just a few examples. These moral
truths transcend religious, cultural, and social differences
and help us to distinguish right from wrong. They are rooted
in our human nature. They tell us how we should act with
other human beings to promote human dignity and build a
well-functioning and civil society—a society in which everyone
lives by the golden rule.5
To develop his or her character, a person must understand
core virtues, care about them, and act upon them. This series
of books aims to help young readers want to become people
of character. The books will help young people understand
such core ethical values as fairness, honesty, responsibility,
respect, tolerance of others, fortitude, self-discipline, teamwork,
and leadership. By offering examples of people today
and notable figures in history who live and have lived these
virtues, these books will inspire young readers to develop
these traits in themselves.
Finally, through these books, young readers will see that if
they act on these moral truths, they will make good choices.
Introduction
10 being a leader and making decisions
They will be able to deal with frustration and anger, manage
conflict resolution, overcome prejudice, handle peer pressure,
and deal with bullying. The result, one hopes, will be middle
schools, high schools, and neighborhoods in which young
people care about one another and work with their classmates
and neighbors to develop team spirit.
Character development is a lifelong task but an exciting
challenge. The need for it has been with us since the beginning
of civilization. As the ancient Greek philosopher Aristotle
explained in his Nicomachean Ethics:
The virtues we get by first exercising them . . . so too we
become just by doing just acts, temperate by doing temperate
acts, brave by doing brave acts. . . . Hence also it is
no easy task to be good . . . to do this to the right person,
to the right extent, at the right time, with the right motive,
and in the right way, that is not easy; wherefore goodness
is both rare and laudable and noble. . . . It makes no small
difference, then, whether we form habits of one kind or of
another from our very youth; it makes a very great difference,
or rather all the difference.6
This development of one’s character is truly The Ultimate
Gift that we hope to give to our young people. In the movie
version of Jim Stovall’s book of the same name, a privileged
young man receives a most unexpected inheritance from his
grandfather. Instead of the sizeable inheritance of cash that
he expects, the young man receives 12 tasks—or “gifts”—
designed to challenge him on a journey of self-discovery.
The gifts confront him with character choices that force him
to decide how one can be truly happy. Is it the possession of
money that brings us happiness, or is it what we do with the
money that we have? Every one of us has been given gifts.
Will we keep our gifts to ourselves, or will we share them
with others?
Being a “person of character” can have multiple meanings.
Psychologist Steven Pinker asks an interesting question in a
11
January 13, 2008, New York Times Magazine article titled “The
Moral Instinct”: “Which of the following people would you

Kamis, 03 November 2011

teori perilaku


BAB I
PENDAHULUAN

A.                LATAR BELAKANG
Kepemimpinan adalah suatu proses dimana pimpinan atau pemimpin dapat mempengaruhi bawahannya atau pengikutnya agar pengikut atau bawahannya tersebut mau melaksanakan segala sesuatu menurut kehendaknya. Teori kepemimpinan terdiri dari beberapa macam salah satu diantaranya yaitu teori perilaku. Dimana teori perilaku ini merupakan gaya kepemimpinan dalam mengimplemntasikan fungsi-fungsi kepemimpinan untuk mencapai tujuannya.teori perilaku ini dibagi atas dua yaitu teori X dan teori Y. pertentangan antara kedua teori ini, menurut Blanken dan Mounton hanya dapat diselesaikan dengan kepemimpinan kombinasi antara orientasi pada tugas (Teori X) dengan orientasi (Teori Y) pada anggota organisasi (karyawan/bawahan).

B.                 TUJUAN PENULISAN
·                    Memenuhi tugas mata kuliah pengantar kepemimpinan
·                    Menjelaskan pengertian tentang teori perilaku
·                    Menjelaskan studi kepemimpinan uneversitas IOWA






BAB II
PEMBAHASAN
TEORI PERILAKU (BEHAVIOR THEORIES)
A.                TEORI PERILAKU
Teori prilaku adalah teori yang menjelaskan bahwa suatu perilaku tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan pemimpin pada orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer / pemimpin organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai / karyawan yaitu teori x atau teori y.
Teori perilaku adalah gaya kepemimpinan dalam mengimplementasikan fungsi-fungsi kepemimpinan, yang menurut teori ini sangat besar pengaruhnya dan bersifat sangat menentukan  dalam mengefektifkan organisasi untuk mencapai tujuannya.
Pendekatan teori perilaku melalui gaya kepemimpinan dalam realisasi fungsi-fungsi kepemimpinan, merupakan strategi kepemimpinan yang memiliki dua orientasi, yang terdiri dari orientasi pada tugas, dan orientasi pada orang/bawahan.
1.                  Teori X
Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.
Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.
Teori X menyatakan bahwa sebagian besar orang-orang ini lebih suka diperintah, dan tidak tertarik akan rasa tanggung jawab serta menginginkan keamanan atas segalanya. Lebih lanjut menurut asumís teori X dari McGregor ini bahwa orang-orang ini pada hakekatnya adalah :
1.   Tidak menyukai bekerja
2.        Tidak menyukai kemauan dan ambisi untuk bertanggung jawab, dan lebih menyukai diarahkan atau diperintah
3.  Mempunyai kemampuan yang kecil untuk berkreasi mengatasi masalah-masalah organisasi.
4.   Hanya membutuhkan motivasi fisiologis dan keamanan saja.
5.  Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mncapai tujuan organisasi..
Untuk menyadari kelemahan dari asumí teori X itu maka McGregor memberikan alternatif teori lain yang dinamakan teori Y.
2.                  Teori Y
Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja.
Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja.

           Ini adalah salah satu teori kepemimpinan yang masih banyak penganutnya. Menurut McGregor, organisasi tradisional dengan ciri-cirinya yang sentralisasi dalam pengambilan keputusan, terumuskan dalam dua model yang dinamakan Teori X dan Teori Y.
Teori Y ini menyatakan bahwa orang-orang pada hakekatnya tidak malas dan dapat dipercaya, tidak seperti yang diduga oleh teori X. Secara keseluruhan asumís teori Y mengenai manusia adalah sbb :
1.             Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain dapat memberikan kepuasan kepada orang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan aktiva-aktiva fisik dan mental. Sehingga di antara keduanya tidak ada perbedaan, jika keadaan sama-sama menyenangkan.
2.     Manusia dapat mengawasi diri sendiri, dan hal itu tidak bisa dihindari dalam    rangka  mencapai     tujuan-tujuan organisasi.
3.     Kemampuan untuk berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi secara luas didistribusikan kepada seluruh karyawan.
4.      Motivasi tidak saja berlaku pada kebutuhan-kebutuhan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri tetapi juga pada tingkat kebutuhan-kebutuhan fisiologi dan keamanan.
5.   Orang-orang dapat mengendalikan diri dan kreatif dalam bekerja jika dimotivasi secara tepat.
B.                Studi kepemimpinan Universitas IOWA
1.             Kepemimpinan gaya otoriter / authoritarian ( Agarwal )
Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.
2.             Kepemimpinan gaya demokratis / democratic ( Herbert G. Hiks dan Ray  C. Gullett )
Adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.
3.                  Kepemimpinan gaya liberal / Laissez Faire ( C. G. Brown )
Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.
Menurut Thoha (2003, h.275) usaha untuk mempelajari kepemimpinan di Universitas Iowa diminta memainkan tiga style kepemimpinan, yakni : otokratis, demokratis, dan semuanya sendiri (laissez faire).
Pemimpin yang otoriter bertindak sangat direktif, selalu memberikan pengarahan, dan tidak memberikan kesempatan timbulnya partisipasi. Kepemimpinan seperti ini cenderung memberikan perhatian individual ketika memberikan pujian dan kritik, tetapi berusaha untuk lebih bersikap impersonal dan berkawan dibandingkan dengan bermusuhan secara terbuka.
Pemimpin yang demokratis mendorong kelompok diskusi dan pembuat keputusan. Pemimpin ini mencoba untuk bersikap “obyektif” di dalam pemberian pujian atau kritik, dan menjadi satu dengan kelompok dalam hal memberikan spirit.
Adapun pemimpin semaunya sendiri (laissez faire) memberikan kebebasan yang mutlak pada kelompok. Pemimpin semacam ini pada hakikatnya tidak memberikan contoh-contoh kepemimpinan.
Dengan melakukan eksperimen atau menciptakan suatu kondisi eksperimen, Tiga gaya kepemimpinan tesebut dimanipulasi sedemikian rupa, sehingga mampu menunjukkan pengaruhnya terhadap variable-variabel seperti kepuasan dan prestasi agresi. Sayangnya penelitian Iowa ini tidak mengungkapkan pengaruh langsung dari gaya kepemimpinan tersebut pada produktivitas. Eksperimen secara pokok hanya dirancang untuk mengamati pola perilaku yang agresif. Namun demikian, suatu hasil yang penting dan yang terlihat ialah dicapainya suatu perilaku kelompok yang produktif.










BAB III
PENUTUP
A.                KESIMPULAN : 
Teori perilaku sangat besar pengaruhnya dan bersifat sangat menentukan dalam mengefektifkan organisasi untuk mencapai tujuannya. Teori  perilaku dalam kepemimpinan dikenal teori x dan teori y. dimana teori x pada hakikatnya manusia itu memiliki perilaku pemalas, penakut, dan tidak bertanggung jawab sebaliknya teori y pada dasarnya manusia itu memiliki perilaku bertanggung jawab, motivasi kerja, kreatifitas, dan inisiatif serta mampu mengawasi pekerjaan dan hidupnya sendiri. Kepemimpinan yang efektif adalah yang demokratis, kepemimpinan tersebut harus dijalankan dengan mengikutsertakan anggota organisasi dalam proses pengambilan keputusan, banyak melimpahkan wewenang, pengawasan yang longgar.

B.                SARAN :
Kami menghimbau kepada pelajar khususnya teman-teman sekalian agar kiranya memberikan saran dan kritik dan apabila ada kesalahan yang disengaja dari isi makalah ini tolong dimaklumi, karena setiap manusia mempunyai kekurangan dan kesalahan yang tidak disadari.






DAFTAR PUSTAKA

http://elib.ub.ac.id/bitstream/123456789/21189/1/Pengaruh-Gaya-Kepemimpinan-Situasional-Terhadap-Produktivitas-Kerja-%28-Studi-pada-karyawan-PT-Kertas-Leces-Persero-Probolinggo%29..pdf

http://elib.ub.ac.id/bitstream/123456789/21189/1/Pengaruh-Gaya-Kepemimpinan-Situasional-Terhadap-Produktivitas-Kerja-%28-Studi-pada-karyawan-PT-Kertas-Leces-Persero-Probolinggo%29..pdf


Mengenai Saya

Foto Saya
saya lucu,imoet,dan eksiss